Rabu, 26 Januari 2011

NILAI UAS ANATOMI FISIOLOG 2011

NILAI UAS ANATOMI FISIOLOGI DAPAT DI DOWNLOAD DI SAMPING KIRI : NILAI UAS ANATOMI FISIOLOGI 2011.

UJIAN PERBAIKAN RENCANA DILAKSANAKAN HARI SELASA, 1 PEBRUARI 2011 JAM. 09.00 WIB

BAGI MAHASISWA YANG BERMINAT, HARAP MENDAFTAR KE DOSEN KOORDINATOR MATA KULIAH.

Selasa, 09 November 2010

SOAL-SOAL LATIHAN UJIAN KOMPETENSI PERAWAT

PANITIA UJI KOMPETENSI
LATIHAN SOAL UJIAN KNUKP PPNI
Waktu 50 Menit


PETUNJUK
1. Latihan ini bertujuan untuk mengenalkan berbaga tipe soal ujian yang akan diujikan dalam ujian
2. Soal akan terdiri dari kemampuan pengetahuan komprehensif, aplikasi dan berpikir kritis serta afektif
3. Pilihlah satu jawaban dengan memberi tanda silang (x) atau lingkaran pada jawaban yang anda anggap
benar dengan pensil 2B atau ball point biru/hitam. Bila ingin rubah, hapus atau beri tanda = pada
jawaban sebelumnya.
4. Kerjakan semua soal sebaik-baiknya dan sesuai waktu yang diberikan.
5. Bila telah selesai, lihatlah kunci jawaban yang tersedia pada lembar terakhir. Jangan melihat kunci
jawaban sebelum anda selesai mengerjakan soal
6. Analisa kelebihan dan kekurangan anda di elemen yang mana. Buat strategi secara individual untuk
meningkatkan kemampuan diri.


---------------------------- S O A L L A T I H A N ---------------------------

A. Soal Pengetahuan Komprehensif
1. Dibawah ini, manakah yang BUKAN merupakan komponen Apgar Score.
a. Berat badan c. Usaha bernafas
b. Warna d. Tonus otot

2. Refleks tonik pada leher bayi dimanifestasikan dengan
a. Posisi menegang (fencing)
b. Refleks koordinatif menghisap dan menalan
c. Refleks startle
d. Kekakuan pada leher ketika di pegang/angkat

3. Perbedaan pelvis wanita dari pria adalah
a. Lebih berat, lebih tinggi dan lebih lebar
b. Lebih ringan, lebih lebar dan lebih dalam
c. Lebih lebar dan lebih bulat pada daerah inlet
d. Lebih kecil pada daerah arkus pubik

4. dst.......

Minggu, 24 Januari 2010

OSCE (Objective Structure Clinical Examination)

OSCE (Objective Structure Clinical Examination)

Kata OSCE adalah bukan kata asing lagi bagi mahasiswa. OSCE itu adalah ujian skills lab. So, practical session skills lab yang dipelajari selama 1 semester akan diujikan. Biasanya tiap skill diuji dalam waktu 7 s/d 10 menit. Jadi, bakal disediakan ruangan bersebelahan sejumlah OSCE yang diujikan. Setiap 7 s/d 10 menit bel yang gak enak didenger itu akan berbunyi: "Teeeetttt!", dan kami harus pindah ruangan untuk menjalani ujian skill selanjutnya. Penilaiannya sesuai dengan check list/tool evaluasi yang tersedia. Check list tersebut isinya prosedur tindakan medis. Kalau ada list yang tidak di lakukan diberi nilai 0, kalau dilakukan dg sempurna nilainya 1, ,,, Kemudian diakumulasi dan dimasukan dalam formulasi penilaian,,,
Contoh Tool evaluasi/alat evaluasi silahkan klik/download di http://www.ziddu.com/downloadlink/8302243/MATERIOSCEKMBSMTIII.doc
Atau lihat di kolom materi kuliah di sebelah kanan. Tool evaluasi OSCE KMB.

Kumbah Lambung/GC
Pengertian Kumbah lambung merupakan salah satu tindakan dalam memberikan pertolongan kepada pasien dengan cara memasukkan air atau cairan tertentu dan kemudian mengeluarkannya dengan menggunakan alat yaitu NGT (Naso Gastric Tube) / Stomach Tube yang dimasukkan melalui hidung sampai ke lambung.
Kebijakan Tindakan kumbah lambung dilakukan untuk mengeluarkan racun / darah dari lambung.
Kebijakan
1. Adanya permintaan tertulis dari dokter.
2. pastikan NGT masuk kedalam lambung, kemudian difiksasi.
3. Tinggi corong dari pasien + 30 cm.
4. Tersedia peralatan seperti :
- NGT
- Corong
- Cairan yang diperlukan sesuai kebutuhan
- Plester dan gunting
- Ember penampung cairan
- Stetoskop
- Spuit 20 cc
- Tissue / kain kasa
- Bengkok
- Sarung tangan
- Klem
- Gliserin

Prosedur
1. Persiapan Alat dan Obat :
1.1. NGT / Stomach Tube berbagai ukuran.
1.2. Corong NGT.
1.3. Cairan yang diperlukan sesuai keperluan (susu, air putih, air es)
1.4. Plester yang digunting.
1.5. Sarung tangan (Hand scoen)
1.6. Ember penampung cairan.
1.7. Stetoskop.
1.8. Spuit 10 cc.
1.9. Tissue / kain kasa
1.10. Gliserin / jelly pelicin.
1.11. Bengkok / nierbeken.
1.12. Klem.
1.13. Obat-obatan yang diperlukan (sulfas Atropin, Norit)
1.14. Gelas Ukuran

2. Persiapan Pasien :
2.1. Memberitahukan dan memberikan penjelasan kepada pasien atau keluarganya tentang tindakan yang akan dilakukan.
2.2. Mengatur posisi pasien, telentang dengan kepala ekstensi.

3. Penatalaksanaan
3.1. Perawat mencuci tangan.
3.2. Ember diletakkan dibawah tempat tidur pasien.
3.3. Memakai sarung tangan.
3.4. Mengukur NGT, NGT di klem kemudian oleskan gliserin / pelican pada bagian ujung NGT.
3.5. Memasukan selang NGT melalui hidung secara perlahan-lahan, jika pasien sadar anjurkan untuk menelan.
3.6. Jika terjadi clynosis atau tahanan, NGT segera dicabut.
3.7. Pastikan NGT masuk ke dalam lambung dengan cara :
3.7.1. Masukkan ujung NGT kedalam air, jika tidak terdapat gelembung maka NGT masuk ke lambung.
3.7.2. Masukkan udara dengan spuit 10 cc dan didengarkan pada daerah lambung dengan menggunakan stetoskop. Setelah yakin pasang plester pada hidung untuk memfiksasi NGT.
3.8. Pasang corong pada pangkal NGT, kemudian dimasukkan + 500 cc, kemudian dikeluarkan lagi / ditampung pada ember.
3.9. Lakukan berulang kali sampai cairan yang keluar bersih, jernih dan tidak berbau.
3.10. Perhatikan jenis cairan, bau cairan yang keluar.
3.11. Mengobservasi keadaan umum pasien dan vital sign pada saat dilakukan tindakan.
3.12. Mencatat semua tindakan yang telah dilakukan pada status pasien.
3.13. Setelah selesai, pasien dirapikan dan peralatan dibersihkan.
3.14. Perawat mencuci tangan.

Senin, 11 Januari 2010

PERAWATAN KOLOSTOMI

Pengertian
• Sebuah lubang buatan yang dibuat oleh dokter ahli bedah pada dinding abdomen untuk mengeluarkan feses (M. Bouwhuizen, 1991)
• Pembuatan lubang sementara atau permanen dari usus besar melalui dinding perut untuk mengeluarkan feses (Randy, 1987)
• Lubang yang dibuat melalui dinding abdomen ke dalam kolon iliaka untuk mengeluarkan feses (Evelyn, 1991, Pearce, 1993)
enis – jenis kolostomi
Kolostomi dibuat berdasarkan indikasi dan tujuan tertentu, sehingga jenisnya ada beberapa macam tergantung dari kebutuhan pasien. Kolostomi dapat dibuat secara permanen maupun sementara.
• Kolostomi Permanen
Pembuatan kolostomi permanen biasanya dilakukan apabila pasien sudah tidak memungkinkan untuk defekasi secara normal karena adanya keganasan, perlengketan, atau pengangkatan kolon sigmoid atau rectum sehingga tidak memungkinkan feses melalui anus. Kolostomi permanen biasanya berupa kolostomi single barrel ( dengan satu ujung lubang)

• Kolostomi temporer/ sementara

Pembuatan kolostomi biasanya untuk tujuan dekompresi kolon atau untuk mengalirkan feses sementara dan kemudian kolon akan dikembalikan seperti semula dan abdomen ditutup kembali. Kolostomi temporer ini mempunyai dua ujung lubang yang dikeluarkan melalui abdomen yang disebut kolostomi double barrel.

Lubang kolostomi yang muncul dipermukaan abdomen berupa mukosa kemerahan yang disebut STOMA. Pada minggu pertama post kolostomi biasanya masih terjadi pembengkakan sehingga stoma tampak membesar.
Pasien dengan pemasangan kolostomi biasanya disertai dengan tindakan laparotomi (pembukaan dinding abdomen). Luka laparotomi sangat beresiko mengalami infeksi karena letaknya bersebelahan dengan lubang stoma yang kemungkinan banyak mengeluarkan feses yang dapat mengkontaminasi luka laparotomi, perawat harus selalu memonitor kondisi luka dan segera merawat luka dan mengganti balutan jika balutan terkontaminasi feses.
Perawat harus segera mengganti kantong kolostomi jika kantong kolostomi telah terisi feses atau jika kontong kolostomi bocor dan feses cair mengotori abdomen. Perawat juga harus mempertahankan kulit pasien disekitar stoma tetap kering, hal ini penting untuk menghindari terjadinya iritasi pada kulit dan untuk kenyamanan pasien.
Kulit sekitar stoma yang mengalami iritasi harus segera diberi zink salep atau konsultasi pada dokter ahli jika pasien alergi terhadap perekat kantong kolostomi. Pada pasien yang alergi tersebut mungkin perlu dipikirkan untuk memodifikasi kantong kolostomi agar kulit pasien tidak teriritasi.

Pendidikan pada pasien
Pasien dengan pemasangan kolostomi perlu berbagai penjelasan baik sebelum maupun setelah operasi, terutama tentang perawatan kolostomi bagi pasien yang harus menggunakan kolostomi permanen.
Berbagai hal yang harus diajarkan pada pasien adalah:

• Teknik penggantian/ pemasangan kantong kolostomi yang baik dan benar

• Teknik perawatan stoma dan kulit sekitar stoma

• Waktu penggantian kantong kolostomi

• Teknik irigasi kolostomi dan manfaatnya bagi pasien

• Jadwal makan atau pola makan yang harus dilakukan untuk menyesuaikan

• Pengeluaran feses agar tidak mengganggu aktifitas pasien

• Berbagai jenis makanan bergizi yang harus dikonsumsi

• Berbagai aktifitas yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh pasien

• Berbagi hal/ keluhan yang harus dilaporkan segera pada dokter ( jika apsien sudah dirawat dirumah)

• Berobat/ control ke dokter secara teratur

• Makanan yang tinggi serat


Komplikasi kolostomi

1.Obstruksi/ penyumbatan
Penyumbatan dapat disebabkan oleh adanya perlengketan usus atau adanya pengerasan feses yang sulit dikeluarkan. Untuk menghindari terjadinya sumbatan, pasien perlu dilakukan irigasi kolostomi secara teratur. Pada pasien dengan kolostomi permanen tindakan irigasi ini perlu diajarkan agar pasien dapat melakukannya sendiri di kamar mandi.
2.Infeksi
Kontaminasi feses merupakan factor yang paling sering menjadi penyebab terjadinya infeksi pada luka sekitar stoma. Oleh karena itu pemantauan yang terus menerus sangat diperlukan dan tindakan segera mengganti balutan luka dan mengganti kantong kolstomi sangat bermakna untuk mencegah infeksi.
3.Retraksi stoma/ mengkerut
Stoma mengalami pengikatan karena kantong kolostomi yang terlalu sempit dan juga karena adanya jaringan scar yang terbentuk disekitar stoma yang mengalami pengkerutan.
4.Prolaps pada stoma
Terjadi karena kelemahan otot abdomen atau karena fiksasi struktur penyokong stoma yang kurang adekuat pada saat pembedahan.
5.Stenosis
Penyempitan dari lumen stoma
6.Perdarahan stoma

Perawatan kolostomi
Pengertian
Membersihkan stoma kolostomi, kulit sekitar stoma , dan mengganti kantong kolostomi secara berkala sesuai kebutuhan.

Tujuan

• Menjaga kebersihan pasien

• Mencegah terjadinya infeksi

• Mencegah iritasi kulit sekitar stoma

• Mempertahankan kenyamanan pasien dan lingkungannya


Persiapan pasien

• Memberi penjelasan pada pasien tentang tujuan tindakan, dll

• Mengatur posisi tidur pasien (supinasi)

• Mengatur tempat tidur pasien dan lingkungan pasien (menutup gorden jendela, pintu, memasang penyekat tempat tidur (k/P), mempersilahkan keluarga untuk menunggu di luar kecuali jika diperlukan untuk belajar merawat kolostomi pasien


PERSIAPAN ALAT

1. Colostomy bag atau cincin tumit, bantalan kapas, kain berlubang, dan kain persegi empat

2. Kapas sublimate/kapas basah, NaCl

3. Kapas kering atau tissue

4. 1 pasang sarung tangan bersih

5. Kantong untuk balutan kotor

6. Baju ruangan / celemek

7. Bethadine (bila perlu) bila mengalami iritasi

8. Zink salep

9. Perlak dan alasnya

10. Plester dan gunting

11. Bila perlu obat desinfektan

12. bengkok

13. Set ganti balut


PERSIAPAN KLIEN

1. Memberitahu klien

2. Menyiapkan lingkungan klien

3. Mengatur posisi tidur klien


PROSEDUR KERJA

1. Cuci tangan

2. Gunakan sarung tangan

3. Letakkan perlak dan alasnya di bagian kanan atau kiri pasien sesuai letak stoma

4. Meletakkan bengkok di atas perlak dan didekatkan ke tubuh pasien

5. Mengobservasi produk stoma (warna, konsistensi, dll)

6. Membuka kantong kolostomi secara hati-hati dengan menggunakan pinset dan tangan kiri menekan kulit pasien

7. Meletakan colostomy bag kotor dalam bengkok

8. Melakukan observasi terhadap kulit dan stoma

9. Membersihkan colostomy dan kulit disekitar colostomy dengan kapas sublimat / kapas hangat (air hangat)/ NaCl

10. Mengeringkan kulit sekitar colostomy dengan sangat hati-hati menggunakan kassa steril

11. Memberikan zink salep (tipis-tipis) jika terdapat iritasi pada kulit sekitar stoma

12. Menyesuaikan lubang colostomy dengan stoma colostomy

13. Menempelkan kantong kolostomi dengan posisi vertical/horizontal/miring sesuai kebutuhan pasien

14. Memasukkan stoma melalui lubang kantong kolostomi

15. Merekatkan/memasang kolostomy bag dengan tepat tanpa udara didalamnya

16. Merapikan klien dan lingkungannya

17. Membereskan alat-alat dan membuang kotoran

18. Melepas sarung tangan

19. Mencuci tangan

20. Membuat laporan

Jumat, 12 Juni 2009

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN AMPUTASI

Oleh : Marsaid, S.Kep.Ners.


Pendahuluan

Keperawatan sebagai salah satu profesi, memiliki peran spesifik dalam kegiatan pencapaian kesehatan individu secara optimal, yaitu memiliki tanggung jawab dalam pemenuhan kebutuhan dasar manuisa yang terganggu sebagai akibat perubahan status/derajad kesehatan, baik pada individu maupun pada masyarakat umum. Perawat memiliki peran praktis untuk memberikan bantuan kepada klien menemukan masalah, memilih dan melakukan tindakan baik secara mandiri maupun dengan bantuan untuk mengatasi masalah kesehatan tertentu. ( Kozier; 1991 ).

Klien yang mendapatkan tindakan amputasi organ tubuhnya, merupakan salah satu bentuk masalah yang tersendiri yang juga menjadi objek penyelenggaraan asuhan keperawatan. Keperawatan secara holistik akan memandang masalah yang dihadapi klien melalui berbagai aspek hidup yaitu biologis, psikologis, sosial dan spiritual. Masalah yang dihadapi oleh klien yang mengalami amputasi tidak hanya pada upaya memnuhi kebutuhan fisik semata, tetapi lebih dari itu, perawat berusaha untuk mempertahankan integritas diri klien secara utuh, sehingga tidak menimbulkan komplikasi fisik selama kegiatan intraoperatif, tidak mengakibatkan gangguan mental, klien dapat menerima dirinya secara utuh dan diterima dalam masyarakat, yang akhirnya klien mampu mencapai kesehatan yang optimal dalam pengertian klien produktif bagi diri, keluarga dan masyarakat.

Dalam prakteknya, perawat tentu saja tidak dapat terpisah dengan tim kesehatan lainnya yang memberikan kontribusi yang berbeda untuk mencapai keadaan sehat optimal pada klien. Sehingga perlu bagi perawat untuk memahami tanggungjawabnya secara pebuh dalam penanganan klien yang mendapatkan tindakan amputasi sekaligus memahami tugas dan peran dari anggota kesehatan lain untuk melakukan kegiatan kerjasama dalam menciptakan kesehatan optimal klien yang diamputasi.


Pengertian Amputasi

Amputasi berasal dari kata “amputare” yang kurang lebih diartikan “pancung”.

Amputasi dapat diartikan sebagai tindakan memisahkan bagian tubuh sebagian atau seluruh bagian ekstremitas. Tindakan ini merupakan tindakan yang dilakukan dalam kondisi pilihan terakhir manakala masalah organ yang terjadi pada ekstremitas sudah tidak mungkin dapat diperbaiki dengan menggunakan teknik lain, atau manakala kondisi organ dapat membahayakan keselamatan tubuh klien secara utuh atau merusak organ tubuh yang lain seperti dapat menimbulkan komplikasi infeksi.

Kegiatan amputasi merupakan tindakan yang melibatkan beberapa sistem tubuh seperti sistem integumen, sistem persyarafan, sistem muskuloskeletal dan sisten cardiovaskuler. Labih lanjut ia dapat menimbulkan masalah psikologis bagi klien atau keluarga berupa penurunan citra diri dan penurunan produktifitas.



Penyebab / faktor predisposisi terjadinya amputasi

Tindakan amputasi dapat dilakukan pada kondisi :

1. Fraktur multiple organ tubuh yang tidak mungkin dapat diperbaiki.

2. Kehancuran jaringan kulit yang tidak mungkin diperbaiki.

3. Gangguan vaskuler/sirkulasi pada ekstremitas yang berat.

4. Infeksi yang berat atau beresiko tinggi menyebar ke anggota tubuh lainnya.

5. Adanya tumor pada organ yang tidak mungkin diterapi secara konservatif.

6. Deformitas organ.


Jenis Amputasi

Selasa, 02 Juni 2009

VENTILASI MEKANIK (VENTILATOR)

VENTILASI MEKANIK (VENTILATOR)

I. Pengertian.

Ventilator adalah suatu alat yang digunakan untuk membantu sebagian atau seluruh proses ventilasi untuk mempertahankan oksigenasi.

II. Indikasi Pemasangan Ventilator

1. Pasien dengan respiratory failure (gagal napas)

2. Pasien dengan operasi tekhik hemodilusi.

3. Post trepanasi dengan black out.

4. Respiratory arrest.

III. Penyebab Gagal Napas

1. Penyebab sentral

a. Trauma kepala : contusio cerebri.

b. Radang otak : encepalitis.

c. Gangguan vaskuler : perdarahan otak, infark otak.

d. Obat-obatan : Narkotika, Obat anestesi.

2. Penyebab perifer

a. Kelaian neuromuskuler:

A Guillian Bare symdrom

A Tetanus

A Trauma servikal.

A Obat pelemas otot.

b. Kelainan jalan napas.

A Obstruksi jalan napas.

A Asma broncheal.

c. Kelainan di paru.

A Edema paru, atlektasis, ARDS

d. Kelainan tulang iga / thorak.

A Fraktur costae, pneumothorak, haemathorak.

e. Kelainan jantung.

A Kegagalan jantung kiri.

IV. Kriteria Pemasangan Ventilator

Menurut pontopidan seseorang perlu mendapat bantuan ventilasi mekanik (ventilator) bila :

A Frekuensi napas lebih dari 35 kali per menit.

A Hasil analisa gas darah dengan O2 masker PaO2 kurang dari 70 mmHg.

A PaCO2 lebih dari 60 mmHg

A AaDO2 dengan O2 100 % hasilnya lebih dari 350 mmHg.

A Vital capasity kurang dari 15 ml / kg BB.

V. Macam-macam Ventilator.

Menurut sifatnya ventilator dibagi tiga type yaitu:

1. Volume cycled ventilator.

Perinsip dasar ventilator ini adalah cyclusnya berdasarkan volume. Mesin berhenti bekerja dan terjadi ekspirasi bila telah mencapai volume yang ditentukan. Keuntungan volume cycled ventilator adalah perubahan pada komplain paru pasien tetap memberikan volume tidal yang konsisten.

2. Pressure Cycled Ventilator

Perinsip dasar ventilator type ini adalah cyclusnya menggunakan tekanan. Mesin berhenti bekerja dan terjadi ekspirasi bila telah mencapai tekanan yang telah ditentukan. Pada titik tekanan ini, katup inspirasi tertutup dan ekspirasi terjadi dengan pasif. Kerugian pada type ini bila ada perubahan komplain paru, maka volume udara yang diberikan juga berubah. Sehingga pada pasien yang setatus parunya tidak stabil, penggunaan ventilator tipe ini tidak dianjurkan.

3. Time cycled ventilator

Prinsip kerja dari ventilator type ini adalah cyclusnya berdasarkan wamtu ekspirasi atau waktu inspirasi yang telah ditentukan. Waktu inspirasi ditentukan oleh waktu dan kecepatan inspirasi (jumlah napas permenit)

Normal ratio I : E (inspirasi : ekspirasi ) 1 : 2

VI. Mode-Mode Ventilator.

Pasien yang mendapatkan bantuan ventilasi mekanik dengan menggunakan ventilator tidak selalu dibantu sepenuhnya oleh mesin ventilator, tetapi tergantung dari mode yang kita setting. Mode mode tersebut adalah sebagai berikut:

1. Mode control.

Pada mode kontrol mesin secara terus menerus membantu pernafasan pasien. Ini diberikan pada pasien yang pernafasannya masih sangat jelek, lemah sekali atau bahkan apnea. Pada mode ini ventilator mengontrol pasien, pernafasan diberikan ke pasien pada frekwensi dan volume yang telah ditentukan pada ventilator, tanpa menghiraukan upaya pasien untuk mengawali inspirasi. Bila pasien sadar, mode ini dapat menimbulkan ansietas tinggi dan ketidaknyamanan dan bila pasien berusaha nafas sendiri bisa terjadi fighting (tabrakan antara udara inspirasi dan ekspirasi), tekanan dalam paru meningkat dan bisa berakibat alveoli pecah dan terjadi pneumothorax. Contoh mode control ini adalah: CR (Controlled Respiration), CMV (Controlled Mandatory Ventilation), IPPV (Intermitten Positive Pressure Ventilation)

2. Mode IMV / SIMV: Intermitten Mandatory Ventilation/Sincronized Intermitten Mandatory Ventilation.

Pada mode ini ventilator memberikan bantuan nafas secara selang seling dengan nafas pasien itu sendiri. Pada mode IMV pernafasan mandatory diberikan pada frekwensi yang di set tanpa menghiraukan apakah pasien pada saat inspirasi atau ekspirasi sehingga bisa terjadi fighting dengan segala akibatnya. Oleh karena itu pada ventilator generasi terakhir mode IMVnya disinkronisasi (SIMV). Sehingga pernafasan mandatory diberikan sinkron dengan picuan pasien. Mode IMV/SIMV diberikan pada pasien yang sudah bisa nafas spontan tetapi belum normal sehingga masih memerlukan bantuan.

3. Mode ASB / PS : assisted spontaneus breathing / pressure Suport

Mode ini diberikan pada pasien yang sudah bisa nafas spontan atau pasien yang masih bisa bernafas tetapi tidal volumnenya tidak cukup karena nafasnya dangkal. Pada mode ini pasien harus mempunyai kendali untuk bernafas. Bila pasien tidak mampu untuk memicu trigger maka udara pernafasan tidak diberikan.

4. CPAP : Continous Positive Air Pressure.

Pada mode ini mesin hanya memberikan tekanan positif dan diberikan pada pasien yang sudah bisz bernafas dengan adekuat.

Tujuan pemberian mode ini adalah untuk mencegah atelektasis dan melatih otot-otot pernafasan sebelum pasien dilepas dari ventilator.

VII. Sistem Alarm

Ventilator digunakan untuk mendukung hidup. Sistem alarm perlu untuk mewaspadakan perawat tentang adanya masalah. Alarm tekanan rendah menandakan adanya pemutusan dari pasien (ventilator terlepas dari pasien), sedangkan alarm tekanan tinggi menandakan adanya peningkatan tekanan, misalnya pasien batuk, cubing tertekuk, terjadi fighting, dll. Alarm volume rendah menandakan kebocoran. Alarm jangan pernah diabaikan tidak dianggap dan harus dipasang dalam kondisi siap.

VIII. Pelembaban dan suhu.

Ventilasi mekanis yang melewati jalan nafas buatan meniadakan mekanisme pertahanan tubuh unmtuk pel;embaban dan penghangatan. Dua proses ini harus digantikan dengan suatu alat yang disebut humidifier. Semua udara yang dialirkan dari ventilator melalui air dalam humidifier dihangatkan dan dijenuhkan. Suhu udara diatur kurang lebih sama dengan suhu tubuh. Pada kasus hipotermi berat, pengaturan suhu udara dapat ditingkatkan. Suhu yang terlalu itnggi dapat menyebabkan luka bakar pada trachea dan bila suhu terlalu rendah bisa mengakibatkan kekeringan jalan nafas dan sekresi menjadi kental sehingga sulit dilakukan penghisapan.

IX. Fisiologi Pernapasan Ventilasi Mekanik

Pada pernafasan spontan inspirasi terjadi karena diafragma dan otot intercostalis berkontrkasi, rongga dada mengembang dan terjadi tekanan negatif sehingga aliran udara masuk ke paru, sedangkan fase ekspirasi berjalan secara pasif.

Pada pernafasan dengan ventilasi mekanik, ventilator mengirimkan udara dengan memompakan ke paru pasien, sehingga tekanan sselama inspirasi adalah positif dan menyebabkan tekanan intra thorakal meningkat. Pada akhir inspirasi tekanan dalam rongga thorax paling positif.

X. Efek Ventilasi mekanik

Akibat dari tekanan positif pada rongga thorax, darah yang kembali ke jantung terhambat, venous return menurun, maka cardiac output juga menurun. Bila kondisi penurunan respon simpatis (misalnya karena hipovolemia, obat dan usia lanjut), maka bisa mengakibatkan hipotensi. Darah yang lewat paru juga berkurang karena ada kompresi microvaskuler akibat tekanan positif sehingga darah yang menuju atrium kiri berkurang, akibatnya cardiac output juga berkurang. Bila tekanan terlalu tinggi bisa terjadi gangguan oksigenasi. Selain itu bila volume tidal terlalu tinggi yaitu lebih dari 10-12 ml/kg BB dan tekanan lebih besar dari 40 CmH2O, tidak hanya mempengaruhi cardiac output (curah jantung) tetapi juga resiko terjadinya pneumothorax.

Efek pada organ lain:

Akibat cardiac output menurun; perfusi ke organ-organ lainpun menurun seperti hepar, ginjal dengan segala akibatnya. Akibat tekanan positif di rongga thorax darah yang kembali dari otak terhambat sehingga tekanan intrakranial meningkat.

XI. Komplikasi Ventilasi Mekanik (Ventilator)

Ventilator adalah alat untuk membantu pernafasan pasien, tapi bila perawatannya tidak tepat bisa , menimbulkan komplikasi seperti:

1. Pada paru

a. Baro trauma: tension pneumothorax, empisema sub cutis, emboli udara vaskuler.

b. Atelektasis/kolaps alveoli diffuse

c. Infeksi paru

d. Keracunan oksigen

e. Jalan nafas buatan: king-king (tertekuk), terekstubasi, tersumbat.

f. Aspirasi cairan lambung

g. Tidak berfungsinya penggunaan ventilator

h. Kerusakan jalan nafas bagian atas

2. Pada sistem kardiovaskuler

Hipotensi, menurunya cardiac output dikarenakan menurunnya aliran balik vena akibat meningkatnya tekanan intra thorax pada pemberian ventilasi mekanik dengan tekanan tinggi.

3. Pada sistem saraf pusat

a. Vasokonstriksi cerebral

Terjadi karena penurunan tekanan CO2 arteri (PaCO2) dibawah normal akibat dari hiperventilasi.

b. Oedema cerebral

Terjadi karena peningkatan tekanan CO2 arteri diatas normal akibat dari hipoventilasi.

c. Peningkatan tekanan intra kranial

d. Gangguan kesadaran

e. Gangguan tidur

4. Pada sistem gastrointestinal

a. Distensi lambung, illeus

b. Perdarahan lambung

5. Gangguan psikologi

XII. Prosedur Pemberian Ventilator

Sebelum memasang ventilator pada pasien. Lakukan tes paru pada ventilator untuk memastikan pengesetan sesuai pedoman standar. Sedangkan pengesetan awal adalah sebagai berikut:

1. Fraksi oksigen inspirasi (FiO2) 100%

2. Volume tidal: 4-5 ml/kg BB

3. Frekwensi pernafasan: 10-15 kali/menit

4. Aliran inspirasi: 40-60 liter/detik

5. PEEP (Possitive End Expiratory Pressure) atau tekanan positif akhir ekspirasi: 0-5 Cm, ini diberikan pada pasien yang mengalami oedema paru dan untuk mencegah atelektasis. Pengesetan untuk pasien ditentukan oleh tujuan terapi dan perubahan pengesetan ditentukan oleh respon pasien yang ditujunkan oleh hasil analisa gas darah (Blood Gas)

.

XIII. Kriteria Penyapihan

Pasien yang mendapat bantuan ventilasi mekanik dapat dilakukan penyapihan bila memenuhi kriteria sebagai berikut:

A Kapasitas vital 10-15 ml/kg BB

A Volume tidal 4-5 ml/kg BB

A Kekuatan inspirasi 20 cm H2O atau lebih besar

A Frekwensi pernafasan kurang dari 20 kali/menit.

FISIOLOGI PERNAPASAN VENTILASI MEKANIK

g Napas Spontan

- diafragma dan otot intercostalis berkontraksi à rongga dada mengembang terjadi tekanan (-) à aliran udara masuk ke paru dan berhenti pada akhir inspirasi

- fase ekspirasi berjalan secara pasif

g Pernapasan dengan ventilasi mekanik

- udara masuk ke dalam paru karena ditiup, sehingga tekanan rongga thorax (+)

- pada akhir inspirasi tekanan dalam rongga thorax paling positif

- ekspirasi berjalan pasif.

EFEK VENTILASI MEKANIK

A Pada Kardiovaskuler

- akibat dari tekanan posistif pada rongga thorax à darah yang kembali ke jantung terhambat à venous return menurun maka cardiac out put menurun.

- Darah yang lewat paru juga berkurang karena ada kompresi microvaskuler akibat tekanan (+) à sehingga darah berkurang à cardiac out put menurun.

- Bila tekanan terlalu tinggi à bisa terjadi ex oksigenasi.

A Pada organ Lain

- akibat cardiac out put menurun à perfusi ke organ lainpun akan menurun seperti, hepar, ginjal, otak dan segala akibatnya.

- Akibat tekanan (+) di rongga thorax darah yang kembali dari otak terhambat à TIK meningkat.

TERAPI OXIGEN

Setelah jalan nafas bebas, maka selanjutnya tergantung dari derajat hipoksia atau hiperkabinya serta keadaan penderita.

Pontiopidan memberi batasan mekanik, oksigenasi dan ventilasi untuk menentukan tindakan selanjutnya (lihat tabel)

PARAMETER

ACCAPTABLE RANGE (TIDAK PERLU TERAPI KHUSUS)

FISIOTERAPI DADA, TERAPI OKSIGEN, MONITORING KETAT

INTUBASI TRACHEOSTOMI VENTILASI MEKANIK.

1. MEKANIK

- Frekwensi nafas

- Vital capacity (ml/kg)

- Inspiratori force, CmH2O

2. OKSIGENASI

- A - aDO2 100% O2 mmHg

- PaO2 mmHg

3. VENTILASI

- VD / VT

- PaCO2

12 - 25

70 - 30

100 - 50

50 - 200

100 - 75

(Air)

0,3 - 0,4

35 - 45

25 - 35

30 - 15

50 - 25

200 - 350

200 - 70

( O2 Mask)

0,4 - 0,6

5 - 60

> 35

<>

<>

> 350

<>

( O2 Mask )

0,6

60

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN

BANTUAN VENTILASI MEKANIK (VENTILATOR)

I. Pengkajian

Hal-hal yang perlu dikaji pada psien yang mendapat nafas buatan dengan ventilator adalah:

1. Biodata

Meliputi nama, umur, pendidikan, pekerjaan, suku bangsa, agama, alamt, dll.

Pengkajian ini penting dilakukan untuk mengetahui latar belakang status sosial ekonomi, adat kebudayaan dan keyakinan spritual pasien, sehingga mempermudah dalam berkomunikasi dan menentukan tindakan keperawatan yang sesuai.

2. Riwayat penyakit/riwayat keperawatan

Informasi mengenai latar belakang dan riwayat penyakit yang sekarang dapat diperoleh melalui oranglain (keluarga, tim medis lain) karena kondisi pasien yang dapat bentuan ventilator tidak mungkin untuk memberikan data secara detail. Pengkajian ini ditujukan untuk mengetahui kemungkinan penyebab atau faktor pencetus terjadinya gagal nafas/dipasangnya ventilator.

3. Keluhan

Untuk mengkaji keluhan pasien dalam keadaan sadar baik, bisa dilakukan dengan cara pasien diberi alat tulis untuk menyampaikan keluhannya. Keluhan pasien yang perlu dikaji adalah rasa sesak nafas, nafas terasa berat, kelelahan dan ketidaknyamanan.

4. Sistem pernafasan

a. Setting ventilator meliputi:

A Mode ventilator

- CR/CMV/IPPV (Controlled Respiration/Controlled Mandatory Ventilation/Intermitten Positive Pressure Ventilation)

- SIMV (Syncronized Intermitten Mandatory Ventilation)

- ASB/PS (Assisted Spontaneus Breathing/Pressure Suport)

- CPAP (Continous Possitive Air Presure)

A FiO2: Prosentase oksigen yang diberikan

A PEEP: Positive End Expiratory Pressure

A Frekwensi nafas

b. Gerakan nafas apakah sesuai dengan irama ventilator

c. Expansi dada kanan dan kiri apakah simetris atau tidak

d. Suara nafas: adalah ronkhi, whezing, penurunan suara nafas

e. Adakah gerakan cuping hidung dan penggunaan otot bantu tambahan

f. Sekret: jumlah, konsistensi, warna dan bau

g. Humidifier: kehangatan dan batas aqua

h. Tubing/circuit ventilator: adakah kebocoran tertekuk atau terlepas

i. Hasil analisa gas darah terakhir/saturasi oksigen

j. Hasil foto thorax terakhir

5. Sistem kardiovaskuler

Penkajian kardiovaskuler dilakukan untuk mengetahui adanmya gangguan hemodinamik yang diakibatkan setting ventilator (PEEP terlalu tinggi) atau disebabkan karena hipoksia. Pengkajian meliputi tekanan darah, nadi, irama jantung, perfusi, adakah sianosis dan banyak mengeluarkan keringat.

6. Sistem neurologi

Pengkajian meliputi tingkat kesadaran, adalah nyeri kepala, rasa ngantuk, gelisah dan kekacauan mental.

7. Sistem urogenital

Adakah penurunan produksi urine (berkurangnya produksi urine menunjukkan adanya gangguan perfusi ginjal)

8. Status cairan dan nutrisi

Status cairan dan nutrisi penting dikaji karena bila ada gangguan status nutrisi dn cairan akan memperberat keadaan. Seperti cairan yang berlebihan dan albumin yang rendah akan memperberat oedema paru.

9. Status psycososial

Pasien yang dirawat di ICU dan dipasang ventilator sering mengalami depresi mental lyang dimanifestasikan berupa kebingungan, gangguan orientasi, merasa terisolasi, kecemasan dan ketakutan akan kematian.

II. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan yang sering terjadi pada pasien yang mendapat bentuan nafas mekanik/dipasang ventilator diantaranya adalah:

1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas sehubungan dengan peniingkatan produksi sekret

2. Gangguan pertukaran gas sehubungan dengan sekresi tertahan, proses penyakitnya

3. Ketidakefektifan pola nafas sehubungan dengan kelelahan, pengesetan ventilator yang tidak tepat, obstruksi selang endotracheal

4. Cemas sehubungan dengan penyakit kritis, takut terhadap kematian

5. Gangguan pemenuhan komunikasi verbal sehubungan dengan pemasangan selang endotracheal

6. Resiko tinggi terjadinya infeksi saluran nafas sehubungan dengan pemasangan selang endotracheal

7. Resiko tinggi terjadinya trauma atau cedera sehubungan dengan ventilasi mekanis, selang endotracheal, ansietas, stress

8. Gangguan rasa nyaman sehubungan dengan ventilasi mekanis, letak selang endotracheal

III. Perencanaan

1. Diagnosa Keperawatan

Ketidakefektifan bersihan jalan nafas sehubungan dengan peniingkatan produksi sekret

Tujuan:

Meningkatkan dan mempertahankan keefektifan jalan napas.

Kriteria hasil:

A Bunyi napas terdengar bersih.

A Ronchi tidak terdengar.

A Tracheal tube bebas sumbatan.

Tindakan keperawatan:

INTERVENSI

RASIONAL

1

2

3

4

5

6

7

8

Auskultasi bunyi napas tiap 2-4 jam dan kalau diperlukan.

Lakukan pengisapan bila terdengar ronchi dengan cara:

a. jelaskan pada pasien tentang tujuan dari tindakan pengisapan.

b. Berikan oksigen dengan O2 100 % sebelum dilakukan pengisapan, minimal 4 - 5 X pernapasan.

c. Perhatikan teknik aseptik, gunakan sarung tangan steril, kateter pengisap steril.

d. Masukan kateter kedalam selang ET dalam keadaan tidak mengisap (ditekuk), lama pengisapan tidak lebih dari 10 detik.

e. Atur tekanan isap tidak lebih dari 100 - 120 mmHg.

f. Lakukan oksigenasi lagi dengan O2 100 % sebelum melakukan pengisapan berikutnya.

g. Lakukan pengisapan berulang-ulang sampai suara napas bersih.

Pertahankan suhu humidifer tetap hangat (35 - 37,8 o C

Monitor statur hidrasi pasien

Melakukan fisioterapi napas / dada sesuai indikasi dengan cara clapping, fibrasi dan pustural drainage.

Berikan obat mukolitik sesuai indikasi / program.

Kaji suara napas sebelum dan sesudah melakukan tindakan pengisapan.

Observasi tanda-tanda vital sebelum dan sesudah melakukan tindakan.

1

2

3

4

5

6

7

8

Mengevaluasi keefetifan jalan napas.

a. Dengan mengertinya tujuan tindakan yang akan dilakukan pasien bisa berpartisipasi aktif.

b. Memberi cadangan O2 untuk menghindari hipoksia.

c. Mencegah infeksi nosokomial.

d. Aspirasi lama dapat menimbulkan hipoksia, karena tindakan pengisapan akan mengeluarkan sekret dan O2.

e. Tindakan negatif yang berlebihan dapat merusak mukosa jalan napas.

f. Memberikan cadangan oksigen dalam paru.

g. Menjamin keefektifan jalan napas.

Membantu mengencerkan skret.

Mencegah sekresi menjadi kental.

Memudahkan pelepasan sekret.

Mengencerkan sekret.

Menentukan lokasi penumpukan sekret, mengevaluasi kebersihan tindakan

Deteksi dini adanya kelainan.

2. Diagnosa Keperawatan

Gangguan pertukaran gas sehubungan dengan sekresi tertahan, proses penyakitnya

Tujuan:

Pertukaran gas kembali normal.

Kriteria hasil:

A Hasil analisa gas darah normal yang terdiri dari:

- PH (7,35 - 7,45)

- PO2 (80 - 100 mmHg)

- PCO2 ( 35 - 45 mmHg)

- BE ( -2 - + 2)

- Tidak sianosis

Tindakan keperawatan:

INTERVENSI

RASIONAL

1

2

3

4

Cek analisa gas darah setiap 10 - 30 menit setelah perubahan setting ventilator.

Monitor hasil analisa gas darah (blood gas) atau oksimeteri selama periode penyapihan.

Pertahankan jalan napas bebas dari skresi.

Monitor tanda dan gejala hipoksia

1

2

3

4

Evaluasi keefektifan setting ventilator yang diberikan

Evaluasi kemampuan bernapas

Sekresi menghambat kelancaran udara napas.

Diteksi dini adanya kelainan.

3. Diagnosa Keperawatan

Ketidak efektifan pola nafas sehubungan dengan kelelahan, pengesetan ventilator yang tidak tepat, obstruksi selang endotracheal

Tujuan:

Pola napas efektif.

Kriteria hasil:

A Napas sesuai dengan irama ventilator.

A Volume napas adekuat.

A Alarm tidak berbunyi.

Tindakan keperawatan:

INTERVENSI

RASIONAL

1

2

3

4

5

6

7

8

Lakukan pemeriksaan ventilator tiap 1 - 2 jam.

Evaluasi semua alarm dan tentukan penyebabnya.

Pertahankan alat resusitasi manual (bag & mask) pada posisi tempat tidur sepanjang waktu.

Monitor selang / cubbing ventilator dari terlepas , terlipat, bocor atau tersumbat.

Evaluasi tekanan atau kebocoran balon cuff.

Masukan penahan gigi (pada pemasangat ETT lewat oral)

Amankan selang ETT dengan fiksasi yang baik.

Monitor suara dan pergerakan dada secara teratur.

1

2

3

4

5

6

7

8

Diteksi dini adanya kelainan atau gg. fungsi ventilator.

Bunyi alarm menunjukan adanya gg. Fungsi ventilator.

Memudahkan melakukan pertolongan bila sewaktu/waktu ada gangguan fungsi ventilator.

Mencegah berkurangnya aliran udara napas.

Mencegah berkurangnya aliran udara napas.

Mencegah tergigitnya selang ETT

Mencegah terlepas / tercabutnya selang ETT.

Evaluasi keefektifan jalan napas.

4. Diagnosa Keperawatan

Cemas sehubungan dengan penyakit kritis, takut terhadap kematian

Tujuan: Cemas berkurang atau hilang

Kriteria hasil: Mampu mengekspresikan kecemasan, tidak gelisah, kooperatif.

Tindakan keperawatan:

INTERVENSI

RASIONAL

1

2

3

4

5

6

Lakukan komunikasi terapiutik.

Dorong pasien agar mampu mengekspresikan perasaannya.

Berikan sentuhan kasih sayang.

Berikan support mental.

Berikan kesempatan pada keluarga dan orang-orang yang dekat dengan klien untuk mengunjungi pada saat-saat tertentu.

Berikan informasi realistis pada tingkat pemahaman klien.

1

2

3

4

5

6

Membina hubungan saling percaya.

Menggali perasaan dan permasalahan yang sedang dihadapi klien.

Mengurangi cemas.

Mengurangi cemas.

Kehadiran orang-orang yang dicintai meningkatkan semangat dan motivasi untuk sembuh.

Memahami tujuan pemberian atau pemasangan ventilator.

5. Diagnosa Keperawatan

Gangguan pemenuhan komunikasi verbal sehubungan dengan pemasangan selang endotracheal

Tujuan: Mempertahankan komunikasi

Kriteria hasil: Klien dapat berkomunikasi dgn menggunakan metode alternatif.

Tindakan keperawatan:

INTERVENSI

RASIONAL

1

2

Berikan papan, kertas dan pensil, gambar untuk komunikasi, ajukan pertanyaan dengan jawaban ya atau tidak.

Yakinkan klien bahwa suara akan kembali bila ETT dilepas.

1

2

Mempermudah klien untuk mengemukakan perasaan / keluhan dengan berkomunikasi.

Mengurangi cemas.

6. Diagnosa Keperawatan

Resiko tinggi terjadinya infeksi saluran nafas sehubungan dengan pemasangan selang endotracheal

Tujuan:

Tidak terjadi infeksi saluran napas s/d pemasangan selang ETT / ventilator

Kriteria hasil:

A Suhu tubuh normal (36 - 37,5 C)

A Warna sputum jernih.

A Kultur sputum negatif.

Tindakan keperawatan:

INTERVENSI

RASIONAL

1

2

3

4

5

6

7

8

Evaluasi warna, jumlah, konsistensi dan bauh sputum setiap kali pengisapan.

Lakukan pemeriksaan kultur sputum dan test sensitifitas sesuai indikasi.

Pertahanakan teknik aseptik pada saat melakukan pengisapan (succion)

Jaga kebersihan bag & mask.

Lakukan pembersihan mulut, hidung dan rongga faring setiap shitf.

Ganti selang / tubing ventilator 24 - 72 jam.

Monitor tanda-tanda vital yang menunjukan adanya infeksi.

Berikan antibiotika sesuai program dokter.

1

2

3

4

5

6

7

8

Indikator untuk menilai adanya infeksi jalan napas.

Menentukan jenis kuman dan sensitifitasnya terhadap antibiotik.

Mencegah infeksi nosokomial.

Lingkungan kotor merupakan media pertumbuhan kuman.

Lingkungan kotor merupakan media pertumbuhan kuman.

Menjamin selang ventilator tetap bersih dan steril.

Diteksi dini.

Antibiotika bersifat baktericide.

7. Diagnosa Keperawatan

Resiko tinggi terjadinya trauma atau cedera sehubungan dengan ventilasi mekanis, selang endotracheal, ansietas, stress

Tujuan:

Bebas dari cedera selama ventilasi mekanik.

Kriteria hasil:

A Tidak terjadi iritasi pada hidung maupun jalan napas.

A Tidak terjadi barotrauma.

Tindakan keperawatan:

INTERVENSI

RASIONAL

1

2

3

4

5

6

7

Monitor ventilator terhadap peningkatan secara tajam.

Yakinkan napas pasien sesuai dengan irama ventilator

Mencegah terjadinya fighting kalau perlu kolaborasi dengan dokter untuk memberi sedasi.

Observasi tanda dan gejala barotrauma.

Lakukan pengisapan lendir dengan hati-hati dan gunakan kateter succion yang lunak dan ujungnya tidak tajam.

Lakukan restrain / fiksasi bila pasien gelisah.

Atur posisi selang / tubing ventilator dengan cepat.

1

2

3

4

5

6

7

Peningkatan secara tajam dapat menimbulkan trauma jalan napas (barutrauma)

Napas yang berlawanan dengan mesin dapat menimbulkan trauma.

Napas yang berlawanan dengan mesin dapat menimbulkan trauma.

Diteksi dini.

Mencegah iritasi mukosa jalan napas.

Mencegah terekstubasinya ETT (ekstubasi sendiri)

Mencegah trauma akibat penekanan selang ETT.

8. Diagnosa Keperawatan

Gangguan rasa nyaman sehubungan dengan ventilasi mekanis, letak selang endotracheal

Tujuan:

Merasa nyaman selama dipasang ventilator.

Kriteria hasil:

A Klien tidak gelisah.

A Klien dapat istirahat dan tidur dengan tenang.

Tindakan keperawatan:

INTERVENSI

RASIONAL

1

2

3

4

Atur posisi selang ETT dan Tubing ventilator.

Atur sensitivitas ventilator.

Atur posisi tidur dengan menaikkan bagian kepala tempat tidur, kecuali ada kontra indikasi.

Kalau perlu kolaborasi dengan kokter untuk memberi analgesik dan sedasi.

1

2

3

4

Mencegah penarikan dan penekanan.

Menurunkan upaya pasien melakukan pernapasan.

Meningkatkan rasa nyaman.

Mengurangi rasa nyeri